Tokopedia PHK Ratusan Karyawan, Ada Apa di Baliknya?
ElangID – Jakarta, 26 Agustus 2025 – Dunia e-commerce Indonesia kembali digemparkan oleh kabar pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di Tokopedia.
Raksasa marketplace lokal yang telah berdiri selama 16 tahun ini dikabarkan mem-PHK sekitar 420 karyawan dalam dua bulan terakhir, dengan 240 orang terdampak pada Agustus saja.
Langkah ini menjadi sorotan tajam di tengah persaingan ketat sektor digital dan dampak akuisisi mayoritas saham oleh TikTok pada 2024.
Apa yang sebenarnya terjadi di balik keputusan ini? Apakah ini tanda-tanda kebangkrutan model bisnis Tokopedia atau strategi efisiensi global ala perusahaan Tiongkok?
Kabar PHK ini pertama kali viral di media sosial, khususnya X (sebelumnya Twitter), di mana unggahan dari akun seperti @txtdrimedia dan @ARSIPAJA menjadi perbincangan hangat. Satu postingan yang menampilkan screenshot internal Tokopedia mengklaim bahwa dua petinggi asal Tiongkok telah mengonfirmasi PHK yang bertepatan dengan siklus penilaian kinerja (Performance Appraisal/PA) dan Rencana Peningkatan Kinerja (Performance Improvement Plan/PIP).
Netizen bereaksi campur aduk: ada yang prihatin dengan nasib karyawan, sementara yang lain menyindir bahwa akuisisi TikTok justru "menghancurkan" perusahaan lokal. "TikTok kuasai 75% Tokopedia, ratusan pekerja lokal justru kena PHK.
Beginilah jadinya kalau raksasa asing yang pegang kendali," tulis @TheAlunaMah dalam balasan unggahan viral tersebut. [Sumber: X Post ID 40]
Berdasarkan informasi dari sumber terpercaya seperti CNBC Indonesia, total PHK mencapai 420 orang: 180 pada Juli dan 240 pada Agustus 2025. Pemangkasan ini meliputi berbagai divisi krusial, mulai dari teknologi informasi (IT), customer care, tim pemenuhan pesanan (fulfillment), hingga gudang dan logistik.
Seorang sumber internal yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa langkah ini bagian dari evaluasi berkelanjutan pasca-merger, di mana struktur organisasi disesuaikan untuk menghindari duplikasi fungsi. [Sumber: CNBC Indonesia, ID 2] Tokopedia sendiri belum memberikan konfirmasi resmi, meski upaya konfirmasi ke Communications Senior Lead Tokopedia and TikTok E-Commerce, Rizky Juanita Azuz, telah dilakukan sejak akhir pekan lalu.
Latar Belakang Merger Tokopedia-TikTok: Dari Unicorn Lokal ke Entitas Global
Untuk memahami akar masalah, kita perlu mundur ke awal 2024. Tokopedia, yang didirikan pada 17 Agustus 2009 oleh William Tanuwijaya dan Leontinus Alpha Edison, sempat menjadi pionir e-commerce Indonesia.
Platform ini mencapai status unicorn pada 2017 setelah mendapat pendanaan besar dari Alibaba, dan merger dengan Gojek pada 2021 membentuk GoTo, decacorn pertama di Asia Tenggara. GoTo pun melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada April 2022.
Namun, babak baru dimulai ketika TikTok, melalui induknya ByteDance Ltd., mengakuisisi 75,01% saham Tokopedia senilai US$1,5 miliar (sekitar Rp24 triliun) pada Januari 2024.
Akuisisi ini dipicu oleh kebijakan pemerintah Indonesia yang melarang platform media sosial menjalankan bisnis e-commerce langsung, memaksa TikTok Shop berintegrasi dengan Tokopedia untuk tetap beroperasi. GoTo mempertahankan 25% saham minoritas, tapi kendali sepenuhnya beralih ke ByteDance.
Merger ini diharapkan menciptakan sinergi: TikTok Shop membawa lalu lintas pengguna masif (157,6 juta pengguna di Indonesia per Juli 2024, menurut Statista), sementara Tokopedia menyumbang ekosistem UMKM lokal. Namun, realitasnya lebih rumit.
Pasca-merger, jumlah karyawan gabungan mencapai sekitar 5.000 orang, tapi efisiensi menjadi prioritas. Pada Juni 2024, sudah ada PHK 450 karyawan (9% dari total), diikuti gelombang lain pada Mei 2025 (200 orang).
Kini, dengan 420 PHK tambahan, total sejak merger mencapai sekitar 1.070 karyawan. Sumber Bloomberg menyebutkan bahwa pengurangan ini membuat Tokopedia-TikTok Shop hanya memiliki 2.500 karyawan di Indonesia, setengah dari jumlah awal merger.
Apa yang Menjadi Pemicu Utama PHK?
Penyebab utama PHK ini adalah upaya efisiensi pasca-merger. Juru Bicara TikTok menyatakan, "Kami secara rutin mengevaluasi kebutuhan bisnis dan melakukan berbagai penyesuaian untuk memperkuat organisasi kami serta memberikan layanan yang lebih baik kepada para pengguna." [Sumber: ID 7] Ini termasuk eliminasi fungsi duplikat di tim logistik, operasi, pemasaran, dan pergudangan. Seorang sumber internal detikFinance bahkan menyebut jumlah karyawan Tokopedia dianggap "terlalu gemuk" setelah digabung dengan tim TikTok Shop, yang bergerak di bisnis serupa.
Faktor eksternal juga berperan. Persaingan e-commerce Indonesia semakin sengit. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2025 menunjukkan Shopee mendominasi dengan 53,22% pengguna (naik dari 41,65% tahun sebelumnya), diikuti TikTok Shop 27,37% (naik dari 12,20%), sementara Tokopedia hanya 9,57% (naik tipis dari 9,40%). [Sumber: APJII, ID 14] Penurunan pangsa pasar Tokopedia pasca-merger disebabkan oleh migrasi seller ke platform lain, kesulitan integrasi sistem, dan penurunan insentif. Beberapa seller mengeluh bahwa dashboard TikTok Shop "tidak intuitif" dan membatasi deskripsi produk, membuat penjualan menurun.
Ekonom dari Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menyebut PHK ini menambah daftar panjang efisiensi di sektor digital Indonesia. "Setelah merger, isu PHK masih akan tetap terjadi karena penggabungan unit bisnis yang sama," katanya. [Sumber: ID 12] Selain itu, tekanan global ByteDance—yang bergantung pada TikTok untuk 25% pendapatan US$155 miliar pada 2024—mendorong pemangkasan biaya, meski pendapatan naik 29%. [Sumber: Bloomberg, ID 3] Di Indonesia, tantangan ekonomi seperti inflasi dan penurunan daya beli konsumen juga memperburuk situasi.
Respons Pihak Terkait: Dari Pemerintah hingga Asosiasi
Pemerintah melalui Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyatakan akan mengkaji kabar PHK ini. "Nanti kita kaji," ujarnya pada Juni 2025 terkait gelombang sebelumnya. [Sumber: ID 1] Kementerian Perdagangan (Kemendag) juga memantau dampaknya terhadap UMKM, karena Tokopedia dikenal sebagai penopang ekosistem pedagang kecil.
Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Isy Karim, menyebut PHK sebelumnya disebabkan "redundant fungsi" pasca-merger. [Sumber: ID 4]
Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) melalui Sekretaris Jenderalnya, Budi Primawan, menilai PHK ini bagian dari dinamika industri global. "Efisiensi biasanya didasari pertimbangan bisnis kompleks, termasuk penyesuaian strategi akibat perubahan model operasi," katanya.
Namun, Budi menekankan bahwa tren ini tidak hanya di Indonesia, tapi juga global, di mana perusahaan seperti Alibaba dan Tencent juga memangkas ribuan karyawan. Di X, akun @voiceofpkb menyerukan pemerintah memperketat aturan marketplace untuk lindungi UMKM dari dominasi asing.
TikTok sendiri menegaskan komitmen investasi jangka panjang. "Kami terus berinvestasi di Tokopedia dan Indonesia, sebagai bagian dari strategi kami untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi yang berkelanjutan," tulis juru bicara mereka. Meski demikian, kekhawatiran muncul soal pengalihan tim teknis ke China, di mana beberapa pekerjaan kini dilaporkan ke pusat ByteDance.
Dampak Sosial dan Ekonomi: Ancaman bagi Tenaga Kerja Digital
PHK ini bukan hanya angka, tapi cerita manusia. Karyawan yang terdampak menerima pesangon sesuai masa kerja dan gaji penuh satu bulan untuk transisi, tapi ketidakpastian karir tetap menghantui. Pakar seperti Tadjudin Nur Effendi dari UGM menyebut ketergantungan startup pada investor asing sebagai akar masalah, di mana tuntutan efisiensi sering mengorbankan pekerja lokal.
Di sektor e-commerce, yang menyerap jutaan tenaga kerja tidak langsung melalui UMKM, PHK ini bisa memicu efek domino: penurunan penjualan seller, relokasi operasional seperti yang dilakukan Shopee ke daerah upah rendah, dan tekanan pada kompetitor seperti Lazada yang pangsa pasarnya turun menjadi 9,09%.
Netizen di X seperti @tqdrlaziz dan @tsumitobachi_ menyuarakan kekhawatiran lebih luas: "Sampe tokopedia aja PHK, Indonesia gelap sampe sektor digital," tulis @AryadiPS. [Sumber: X Post ID 49] Sementara @arifbalikpapan1 mengaitkannya dengan kasus Google yang "membunuh" aplikasi diakuisisi, mempertanyakan nasib Tokopedia.
Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) juga mengawasi potensi monopoli, karena gabungan TikTok-Tokopedia menguasai lebih dari sepertiga pasar e-commerce.
Secara ekonomi, Indonesia tetap menarik bagi investor. TikTok Shop mencatat GMV US$6 miliar di Indonesia pada paruh pertama 2025, tertinggi di dunia.
Namun, tanpa regulasi ketat, PHK seperti ini bisa menggerus kepercayaan tenaga kerja muda yang mendominasi sektor digital.
Prospek ke Depan: Inovasi atau Krisis Berkelanjutan?
TikTok menargetkan integrasi penuh selesai Desember 2025, dengan tim Indonesia fokus pada bisnis dan marketing, sementara teknis dialihkan ke China.
Bagi Tokopedia, ini berarti transformasi dari platform lokal ke ekstensi TikTok global, dengan fitur seperti live streaming dan gamified shopping. Tapi, tantangan tetap: bagaimana menjaga loyalitas seller UMKM di tengah migrasi yang rumit?
Pakar seperti Sigit Widodo dari ID Institute menyarankan agar PHK tidak dijadikan isu untuk menjatuhkan perusahaan, tapi pemerintah harus siasati agar data konsumen tidak dimanfaatkan asing.
Bagi karyawan, ini pelajaran untuk diversifikasi skill di era AI dan otomasi. Bagi Indonesia, merger ini ujian: apakah e-commerce nasional bisa bertahan atau justru jadi korban efisiensi raksasa Tiongkok?
Kisah Tokopedia mengingatkan bahwa di balik kemajuan digital, ada harga yang dibayar oleh pekerja. Hingga kini, Tokopedia dan TikTok belum merilis data resmi terbaru, tapi gelombang PHK ini jelas menandai era baru di e-commerce Indonesia era di mana efisiensi bertemu dengan ketidakpastian sosial.

Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi aturan ini.