Review Film Sore: Istri dari Masa Depan – Kisah Cinta Lintas Waktu yang Emosional dan Memukau
ElangID – Film Sore: Istri dari Masa Depan (2025) telah menjadi perbincangan hangat di kalangan penikmat film Indonesia sejak tayang perdana pada 10 Juli 2025. Diadaptasi dari web series populer berjudul sama pada tahun 2017, film garapan sutradara Yandy Laurens ini menghadirkan kisah romansa fantasi yang penuh emosi, dikemas dengan sinematografi megah dan narasi yang lebih matang dibandingkan versi aslinya. Dibintangi oleh Sheila Dara Aisha dan Dion Wiyoko, film ini berhasil mencuri hati penonton dengan chemistry kuat, visual estetik, dan twist emosional yang tak terduga. Dalam 9 hari penayangan, film ini telah menembus 1 juta penonton, dan hingga akhir Juli 2025, jumlahnya mencapai 1,7 juta, menandakan daya tariknya yang luar biasa di industri perfilman nasional.
Sinopsis: Perjalanan Cinta Lintas Waktu
Sore: Istri dari Masa Depan mengisahkan Jonathan (Dion Wiyoko), seorang fotografer Indonesia yang menjalani hidup bebas di Kroasia. Kehidupannya yang santai namun tidak sehat berubah drastis ketika seorang wanita misterius bernama Sore (Sheila Dara Aisha) muncul dan mengaku sebagai istrinya dari masa depan. Sore datang dengan misi untuk mengubah kebiasaan buruk Jonathan—seperti konsumsi alkohol berlebihan, merokok, dan pola hidup tidak teratur—yang diklaim akan membawanya pada kematian tragis akibat serangan jantung di masa depan.
Awalnya, Jonathan skeptis dan curiga dengan kehadiran Sore, tetapi seiring waktu, hubungan mereka berkembang menjadi ikatan emosional yang dalam. Film ini tidak hanya menyajikan romansa, tetapi juga mengeksplorasi konsep perjalanan waktu melalui pendekatan magical realism, bukan logika sains ala fiksi ilmiah. Cerita semakin kompleks dengan pengenalan elemen time loop dan rahasia besar yang terungkap di babak akhir, membuat penonton terpaku dan merenung panjang setelah kredit film bergulir.
Performa Aktor: Chemistry yang Membumi
Salah satu kekuatan utama film ini terletak pada chemistry antara Sheila Dara Aisha dan Dion Wiyoko. Sheila, yang menggantikan Tika Bravani sebagai Sore dari versi web series, menghadirkan interpretasi baru yang segar. Ia memerankan Sore sebagai sosok yang lembut, playful, namun teguh, dengan spektrum emosi yang luas—dari bucin, putus asa, hingga lelah terjebak dalam time loop. Penampilannya disebut monumental, mampu membuat karakter yang sureal terasa nyata dan relatable.
Dion Wiyoko, yang kembali memerankan Jonathan, menunjukkan perkembangan signifikan. Ia berhasil menghidupkan karakter pria dengan lapisan emosi kompleks, terutama melalui penggalian latar belakang keluarga dan luka masa lalunya yang kini dijelaskan lebih mendalam dibandingkan versi web series. Dukungan dari aktor pendukung seperti Maya Hasan (ibu Jonathan), Mathias Muchus (ayah Jonathan), dan Lara Nekic (Elsa) juga memperkuat dinamika emosional, meskipun jumlah karakter dalam film ini relatif minimalis untuk menjaga fokus pada cerita utama.
Aspek Teknis: Visual dan Musik yang Magis
Sore: Istri dari Masa Depan memanjakan mata penonton dengan sinematografi yang menakjubkan, hasil karya sinematografer Dimas Bagus Triatma Yoga. Film ini difilmkan di lokasi eksotis seperti Kroasia (Grožnjan dan Zagreb), Finlandia (dengan lanskap aurora yang memukau), dan Jakarta. Setiap frame terasa seperti lukisan hidup dengan warna hangat dan komposisi artistik, menciptakan suasana romantis yang mendukung narasi. Pemandangan kota kecil di Kroasia, hamparan es di Finlandia, hingga nuansa urban Jakarta disajikan dengan estetika yang konsisten, membuat film ini layak dinikmati di layar lebar.
Musik menjadi elemen pendukung yang tak kalah kuat. Soundtrack seperti “Forget Jakarta” dan “Gaze” dari Adhitia Sofyan membawa nostalgia bagi penggemar web series, sementara lagu “Pancarona” dan “Terbuang dalam Waktu” dari Barasuara digunakan secara cerdas untuk memperkuat momen-momen emosional. Penggunaan musik tidak hanya sebagai pelengkap, tetapi juga sebagai penggerak narasi, terutama di babak akhir yang disebut sebagai “anti-La La Land ending” karena pendekatannya yang taktis dan emosional. Scoring yang menyatu dengan editing oleh Hendra Adhi Susanto menciptakan pengalaman audiovisual yang menggetarkan.
Narasi dan Tema: Lebih Dalam dari Versi Web Series
Yandy Laurens, yang menulis dan menyutradarai film ini, berhasil memperluas cerita dari web series menjadi narasi yang lebih kompleks dan dewasa. Jika versi web series lebih ringan dan manis, versi film ini menyelami tema-tema berat seperti luka batin, penerimaan diri, ketulusan cinta, dan makna waktu. Elemen time loop dan twist di akhir cerita menambah dimensi baru, membuat penonton terus menebak arah cerita hingga detik-detik terakhir. Banyak penonton menyebut ending-nya sebagai “mind-blowing” dan “emosional punch” yang meninggalkan kesan mendalam, memicu diskusi apakah ini happy ending atau tidak.
Film ini juga menawarkan dialog-dialog puitis yang relatable, seperti kutipan ikonik:
“Tahu gak kenapa senja itu menyenangkan? Kadang dia merah merekah bahagia, kadang dia gelap hitam berduka. Tapi langit selalu menerima senja apa adanya.”Kalimat-kalimat seperti ini, dikombinasikan dengan penyampaian yang tulus dari para aktor, membuat film ini kaya akan momen yang bisa dijadikan kutipan favorit.
Respon Penonton dan Kritikus
Film ini mendapat sambutan positif dari penonton dan kritikus. Di media sosial seperti X, banyak yang memuji eksekusi epik dan pendekatan eksperimentalnya, terutama penggunaan konsep time loop dan multiverse yang mengingatkan pada film seperti Edge of Tomorrow atau Source Code. Seorang penonton menyebutnya “sakit tapi ga ketusuk banget, hampa, bingung, kasian, tapi lega,” mencerminkan rollercoaster emosi yang ditawarkan film ini. Kritikus memuji Yandy Laurens sebagai salah satu sutradara terbaik Indonesia saat ini, dengan beberapa bahkan memprediksi film ini berpotensi meraih Piala Citra, mengikuti jejak karya Yandy sebelumnya seperti Jatuh Cinta Seperti di Film-Film (2023).
Beberapa penonton yang belum menonton web series merasa film ini tetap mudah diikuti dan terasa segar, sementara penggemar lama menyebutnya sebagai “reuni manis dengan rasa baru.” Meski sebagian merasa babak pertama agak lambat karena mirip dengan web series, babak kedua dan ketiga berhasil mematahkan ekspektasi dengan kejutan naratif yang kuat.
Mengapa Harus Menonton?
Sore: Istri dari Masa Depan adalah perpaduan sempurna antara romansa, fantasi, dan drama emosional. Film ini bukan hanya tentang cinta lintas waktu, tetapi juga tentang refleksi diri, pengorbanan, dan bagaimana keputusan kecil dapat mengubah hidup. Visual yang memukau, musik yang menggugah, akting yang solid, dan cerita yang tak terduga menjadikan film ini wajib ditonton, baik bagi penggemar web series maupun penonton baru. Dengan durasi 1 jam 59 menit, film ini terasa padat namun tidak terburu-buru, memberikan ruang bagi penonton untuk tenggelam dalam emosi dan keindahan cerita.
Film ini telah tayang di bioskop seluruh Indonesia sejak 10 Juli 2025, dan menjadi bukti bahwa industri film nasional semakin kompetitif dengan karya-karya berkualitas tinggi. Jadi, siapkan hati dan tisu untuk menyelami perjalanan emosional Sore dan Jonathan yang akan terus terngiang di pikiran Anda.
Sumber:
tuwaga.id, cnnindonesia.com, movfreak.blogspot.com, insertlive.com, imdb.com, lombokpost.jawapos.com, kapanlagi.com, idntimes.com, kompas.com, katadata.co.id, editorial.femaledaily.com, rri.co.id

Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi aturan ini.