5 Gaya Hidup Anak Muda yang Bikin Kantong Bolong Tanpa Sadar
ElangID.com —Dalam era digital yang serba cepat ini, gaya hidup anak muda terus berubah seiring perkembangan teknologi, tren, dan budaya populer. Banyak dari mereka yang ingin tampil stylish, eksis di media sosial, dan menikmati hidup tanpa beban. Namun, di balik keseruan menjalani gaya hidup modern, ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang diam-diam membuat keuangan bocor setiap bulan. Padahal, kalau ditelusuri satu per satu, pengeluaran tersebut sebenarnya bisa diminimalisir, bahkan dihindari sepenuhnya.
Berikut adalah 5 gaya hidup anak muda masa kini yang tanpa sadar bikin kantong bolong, lengkap dengan tips praktis untuk mengatasinya agar keuangan tetap aman dan hidup tetap menyenangkan!
1. Nongkrong Tanpa Batas: Ngopi Setiap Hari di Kafe Hits
Siapa yang tidak suka nongkrong di kafe dengan suasana estetik, lampu temaram, dan alunan musik indie? Tempat-tempat seperti ini memang dirancang untuk memanjakan mata dan jiwa, apalagi kalau Instagramable—sempurna untuk foto-foto atau sekadar kerja sambil menyeruput kopi. Namun, coba hitung pengeluaranmu. Satu cangkir kopi seharga Rp30.000 mungkin terasa murah, tapi kalau kamu nongkrong setiap hari, dalam sebulan pengeluaranmu bisa mencapai Rp900.000 hanya untuk kopi! Belum lagi kalau ditambah camilan, dessert, atau ongkos transportasi seperti ojek online ke kafe tersebut.
Kebiasaan nongkrong memang menyenangkan, tetapi tanpa kontrol, ini bisa menjadi sumber pemborosan utama. Selain itu, banyak anak muda yang merasa “wajib” nongkrong untuk menjaga eksistensi sosial atau sekadar mengisi waktu luang. Padahal, ada cara untuk tetap menikmati suasana kafe tanpa harus menguras dompet.
Solusi:
- Batasi jadwal nongkrong. Cobalah membatasi kunjungan ke kafe hanya di akhir pekan atau 1-2 kali seminggu. Dengan begitu, kamu tetap bisa menikmati suasana tanpa pengeluaran berlebihan.
- Seduh kopi sendiri di rumah. Investasikan sedikit untuk membeli alat seduh sederhana seperti French press atau dripper, serta biji kopi berkualitas. Kamu bisa bereksperimen dengan resep kopi favoritmu dengan biaya yang jauh lebih hemat.
- Manfaatkan promo. Banyak kafe menawarkan promo seperti “buy one get one” atau diskon di hari tertentu. Pantau media sosial kafe favoritmu untuk memanfaatkan penawaran ini.
- Cari alternatif tempat. Tidak semua tempat nongkrong harus mahal. Coba eksplorasi warung kopi lokal atau kafe kecil yang menawarkan harga lebih terjangkau dengan suasana yang tak kalah nyaman.
2. FOMO dan Tren Konsumtif: Beli Barang Cuma Biar “Gak Ketinggalan”
Fear of Missing Out (FOMO) adalah “penyakit” modern yang sering menyerang anak muda. Ketika tren fashion baru seperti sneakers limited edition, tas branded, atau gadget terbaru dirilis, rasanya ada dorongan kuat untuk ikut memilikinya. Sayangnya, banyak dari barang-barang ini dibeli bukan karena kebutuhan, melainkan hanya untuk merasa “tidak ketinggalan” atau untuk pamer di media sosial. Akibatnya, barang tersebut sering hanya digunakan beberapa kali, lalu berakhir di lemari atau dijual murah di marketplace.
FOMO tidak hanya terbatas pada barang fisik. Tren seperti mengikuti kelas olahraga kekinian, membeli tiket konser artis internasional, atau bahkan ikut-ikutan investasi kripto tanpa riset mendalam juga bisa menguras keuangan. Padahal, kalau dipikir ulang, banyak dari pengeluaran ini bisa dihindari dengan sedikit kesadaran.
Solusi:
- Bedakan kebutuhan dan keinginan. Sebelum membeli sesuatu, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah aku benar-benar membutuhkan ini, atau hanya ingin ikut tren?”.
- Terapkan prinsip “tunda 7 hari”. Jika kamu ingin membeli sesuatu, tunggu selama seminggu. Kalau setelah tujuh hari kamu masih merasa barang itu penting dan sesuai budget, baru pertimbangkan untuk membelinya.
- Cari alternatif second-hand. Untuk fashion atau gadget, coba cek marketplace barang bekas yang masih berkualitas. Kamu bisa mendapatkan barang impian dengan harga lebih murah.
- Fokus pada nilai jangka panjang. Alihkan dana untuk investasi yang lebih berarti, seperti kursus online untuk meningkatkan skill atau tabungan untuk masa depan.
3. Berlangganan Layanan Digital yang Gak Pernah Dipakai
Di era streaming, layanan digital seperti Netflix, Spotify, YouTube Premium, Apple Music, Disney+, hingga aplikasi produktivitas seperti Notion atau Canva Pro jadi bagian dari keseharian anak muda. Namun, masalahnya adalah banyak yang berlangganan beberapa layanan sekaligus tanpa memakainya secara maksimal. Misalnya, kamu mungkin berlangganan Netflix tapi jarang nonton karena sibuk, atau punya Spotify Premium tapi lebih sering dengar podcast gratis.
Meski biaya langganan per layanan terlihat kecil, misalnya Rp50.000 per bulan, kalau kamu berlangganan 4-5 layanan, totalnya bisa mencapai Rp200.000–Rp250.000 per bulan. Kalau pembayaran dilakukan otomatis via kartu kredit atau debit, kamu mungkin tidak sadar saldo terus terkuras.
Solusi:
- Lakukan audit langganan. Luangkan waktu untuk mengecek semua layanan yang kamu langgani. Batalkan yang jarang atau tidak pernah kamu gunakan.
- Pilih satu atau dua layanan utama. Fokus pada layanan yang benar-benar sering kamu pakai, misalnya hanya Spotify untuk musik dan Netflix untuk film.
- Patungan dengan teman atau keluarga. Banyak layanan streaming mendukung multi-user, jadi kamu bisa berbagi biaya dengan teman atau keluarga untuk menghemat.
- Manfaatkan uji coba gratis. Sebelum berlangganan, coba periode trial untuk memastikan layanan itu benar-benar kamu butuhkan.
4. Jajan Online Gak Terkontrol: Dari Makanan sampai Barang Lucu
Perkembangan e-commerce dan layanan pesan antar makanan membuat “jajan online” jadi kebiasaan baru anak muda. Dengan sekali klik, makanan kekinian bisa sampai dalam 30 menit, dan barang lucu dari e-commerce tiba esok harinya. Masalahnya, pembelian ini sering dilakukan secara impulsif—bukan karena lapar atau benar-benar butuh, tapi karena tergiur promo, gratis ongkir, atau sekadar iseng.
Belum lagi, aplikasi e-commerce sering menggunakan algoritma yang memancing pembelian berulang dengan notifikasi diskon atau rekomendasi barang. Akibatnya, pengeluaran kecil ini menumpuk dan jadi beban di akhir bulan.
Solusi:
- Buat anggaran khusus untuk jajan online. Tentukan batas maksimal mingguan atau bulanan untuk belanja online, misalnya Rp200.000 per bulan.
- Hindari belanja impulsif. Sebelum checkout, tanyakan: “Apakah aku benar-benar butuh ini?” atau “Apakah ini bisa menunggu promo besar seperti Harbolnas?”.
- Masak atau bawa bekal. Kalau memungkinkan, biasakan masak makanan sederhana di rumah atau bawa bekal ke kantor untuk mengurangi ketergantungan pada pesan antar.
- Hapus notifikasi aplikasi. Matikan notifikasi dari aplikasi e-commerce untuk mengurangi godaan belanja.
5. Traveling Demi Feed Estetik: Liburan Tanpa Rencana Matang
Traveling memang jadi cara favorit anak muda untuk melepas penat dan mencari pengalaman baru. Namun, tidak sedikit yang menjadikan liburan sebagai ajang pamer di media sosial. Pergi ke destinasi mahal atau hits seringkali lebih tentang konten Instagramable ketimbang menikmati budaya atau pengalaman itu sendiri. Akibatnya, pengeluaran untuk tiket pesawat, hotel, dan aktivitas di destinasi bisa membengkak tanpa perencanaan matang.
Solusi:
- Rencanakan jauh-jauh hari. Pesan tiket pesawat dan hotel beberapa bulan sebelumnya untuk mendapatkan harga terbaik.
- Cari destinasi hemat. Pilih tempat wisata lokal atau hidden gem yang tidak kalah indah tapi lebih ramah di kantong.
- Hindari traveling impulsif. Jangan memesan perjalanan hanya karena ada promo kilat tanpa mempertimbangkan budget.
- Fokus pada pengalaman, bukan konten. Nikmati liburan untuk dirimu sendiri, bukan untuk likes di media sosial.
Bonus: Gaya Hidup Flexing di Media Sosial
Zaman sekarang, flexing alias pamer gaya hidup mewah sudah jadi “standar sosial” baru di media sosial. Mulai dari outfit branded, nongkrong di tempat hits, hingga liburan ke destinasi eksotis, semua dipamerkan demi likes dan validasi. Sayangnya, mengejar standar ini sering membuat anak muda hidup di luar kemampuan finansial mereka.
Solusi:
- Stop comparing. Ingat bahwa media sosial hanya menunjukkan sisi “sempurna” kehidupan orang lain. Fokus pada kebahagiaan autentikmu sendiri.
- Gunakan media sosial dengan bijak. Jadikan platform ini untuk inspirasi atau dokumentasi, bukan untuk membandingkan diri dengan orang lain.
- Tetapkan prioritas finansial. Alihkan dana untuk tujuan yang lebih berarti, seperti menabung untuk pendidikan, investasi, atau dana darurat.
Penutup: Saatnya Lebih Bijak Kelola Gaya Hidup
Gaya hidup anak muda memang penuh warna, tantangan, dan godaan. Namun, dengan kesadaran finansial dan kebiasaan kecil yang konsisten, kamu bisa menikmati hidup tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan. Mulailah dari sekarang: catat pengeluaranmu, evaluasi kebiasaan boros, dan ubah pola hidup perlahan. Ingat, tidak semua tren harus diikuti, dan tidak semua hal harus dibeli sekarang juga.
Dengan perencanaan yang matang, kamu bisa tetap tampil stylish, eksis, dan menikmati hidup tanpa kantong jebol setiap akhir bulan. Kalau kamu punya pengalaman soal kebiasaan boros yang nyaris bikin kantong bolong, share di kolom komentar ya! Biar kita saling belajar bareng untuk hidup lebih bijak dan hemat!

Dengan berkomentar, Anda setuju untuk mematuhi aturan ini.